Saya sudah cukup lelah dengan semua sikap mereka, saya terlalu bosan dengan team-work mereka. Tak Cuma sekali ini, ini berulang kali terjadi, entah kenapa puncak kelabilan saya untuk satu hal ini adalah malam ini. Saya memutuskan untuk tidak menonton bola malam ini, dan biarlah saya bercoletah tentang ‘kerja sama’ kelompok di kampus TERCINTA.
Sudah cukup sering kalimat “Teamwork anak ITB itu paling jelek” atau “Anak ITB itu gak bisa kerja sama pas di dunia kerja” atau “mereka terlalu egois”, yah kalimat seperti itu sudah sangat sering mampir di telinga saya. Saya ingin menepis pernyataan mereka, tapi saya sendiri kurang tahu apa saya sudah lebih baik dibandingkan orang-orang yang saya anggap kurang peduli dengan apa itu yang dinamakan “kerja kelompok”. Tahun pertama ini saya menemukan dan menganalisa berbagai cara “kerja kelompok” di kampus Ganesha ini. Saya cukup melihat sekitar saya saja dan itu terlihat dengan mudah. Ini hasil pengamatan saya (CMIIW, ini bersifat subjektif)
· ‘Dewa’ yang bekerja
Macam-macam caranya. Ada yang memang berkumpul, tapi hanya ‘dewa’ itu yang memikirkan dan mengerjakan segala macam pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan bersama. Banyak alasannya, mungkin sang ‘dewa’ merasa bahwa kalau bukan dia yang menghandle maka tak akan ada yang beres atau sang ‘pengikut’ merasa kalau dikerjakan bersama hasilnya tidak akan sesempurna bila hanya sang dewa yang bekerja. Ada juga yang terang-terangan menawarkan dia saja yang bekerja (jujur, ini banyak sekali teman. Entah mereka itu tahu atau tidak bagaimana perasaan anggota kelompoknya yang merasa disepelekan atau dianggap tak mampu). Yang lebih sopan tentu juga ada, sang ‘dewa’ membagi tugas tiap anggota tapi toh sebenarnya dia sudah mengerjakan semuanya seorang diri dan tugas yang dibagi untuk tiap anggota hanyalah formalitas belaka. SAKIT-___-“
· Kerjakan sendiri !
Apa jadinya jika tidak ada dewa dalam satu kelompok? Mungkin lebih baik, mungkin juga tidak. Ini juga tergantung masing-masing karakter yang ada dalam kelompok tersebut. Kalau mereka benar-benar tahu apa yang namanya kerja kelompok mereka akan membagi tugas secara adil, membantu anggota lain yang kesulitan, membahas hasil yang telah dikerjakan secara keseluruhan. Kalau tidak seperti itu? Yang saya tahu mereka akan membagi tugas, yang dianggap lebih bisa akan diberi porsi yang lebih banyak, setelah dikerjakan sendiri-sendiri semuanya dijadikan satu dan setelah itu? Ya begitu saja, jika ada yang tidak sesuai mereka akan menyalahkan anggota yang membuat kesalahan itu tanpa menyelesaikan dan membahas bersama-sama. Itu EGOIS!
· Beberapa yang bekerja.
Jenis ini sangat amat banyak saudara-saudaraaaaaaaaaaaaa! (terlalu sering mengalaminya). Tak perlu dewa di dalam kelompok ini, kelompok ini hanya perlu orang-orang yang peduli dengan kelompoknya. Bagus kalau semuanya peduli? Kalau tidak? Masih mending ada yang peduli daripada tidak ada sama sekali.
Kebanyakan kasus adalah seperti ini :
A: “Eh, ntar sore ikutan ngerjain tugas kelompok nggak?”
B: “Ngga deh kayaknya. Males gue palingan gak guna gue di sana.”
A: “Ya udah, gue juga gak deh kalo gitu.”
Coba kalo A berkata “Ikut dong, ngebantuin sebisa gue aja sih” pasti B bakalan jawab “Bareng ya, ntar ingetin gue. Gak enak masak gue gak bantuin apa-apa.”
Apa susahnya peduli dengan kelompok? Toh yang bakalan dapet nilai adalah semuanya! Mahasiswa bukan siswa yang guru masih bisa mengecek satu per satu siapa yang bekerja banyak siapa yang tidak. Dosen hanya melihat makalah jadi, berarti semua bekerja, CUKUP. Beberapa orang yang bekerja keras dengan tujuan kelompoknya mendapatkan pembelajaran bersama-sama tapi nilai mereka SAMA dengan anggota kelompok lain yang tidak peduli dengan kelompoknya. Coba saja ‘beberapa’ itu adalah semua, itu yang dinamakan kerja kelompok!
Oke, lalu apa yang membuat saya ingin menuliskan hal ini?
Untuk semua teman-teman kampus yang dibangga-banggakan oleh bangsa ini. Untuk kelompok DIKLAT TERPUSAT OSKM 2010, kelompok saya tepatnya.
Bermula saat dibacakan tugas untuk membuat Karya Angkatan, entah ide siapa saya juga kurang paham, yang jelas kami menyambung kardus-kardus dari taip kelompok untuk nanti jadi puzzle yang bertuliskan OSKM 2010 (ya, seperti itulah. Bingung juga nulisnya :D)
Kalau boleh jujur, saya tahu berkumpul untuk membuat tugas itu adalah sejak selasa 15 Juni (itupun iseng buka group), tapi saya masih berpikiran “ah, pasti banyak yang datang di kelompok saya” dan saya saat itu sedang ada acara sendiri. Besoknya, karena harus menyerahkan prosposal lalala jadilah saya ke kampus. Tapi karena yang nerima proposal baru datang siang kata yang jagaperpus dan saya setengahsembilan udah di kampus jadi saya balik dulu karena masih sangat mengantuk. Dengan mengumpulkan semangat akhirnya jam 11 saya ke kampus. Proposal ditolak karena tidak ada surat pengantar, akhirnya saya memutuskan langsungke tunnel bantu kelompok diklat saya. Setelah sms sana sini, saya ketemu dengan kelompok saya (sebenarnya sms sana sini = buang-buang pulsa karena tidak ada yang menjawab). 4 orang sudah ada di sana, “Alhamdulillah ada yang peduli” batinku dalam hati sambil tersenyum. Satu orang ngegambar, lainnya guntingin tulisan. Baru aja selesai gambar dan pasang tulisan kardus-kardus harus disatuin buat di cat. “masih bisa diselesein abis ini” sedikit menenangkan pikiran. Entah apa yang terjadi tiba-tiba satu per satu anggota menghilang. Satu anak SBM ada kuliah, satu anak sipil (yang ngegambar) tiba-tiba ijin dan menyerahkan barang-barang kelompok ke saya*masih belum panik. Dan kepanikanpun akhirnya datang saat Handphone tiba-tiba mati gitu aja sesaat setelah mengirim sms ke anakSBM nanyain nomer anakSAPPK dan jam 3 saya ada janji ke BIP. Panik dan berpikir, pinjem batrai temen! singkatnya temen saya berbaik hati, sms sanasini (lagi), telpon sanasini sampai ada yang ngerespon.
(14.30)
Saya: “EH, dimana? Cepet ke tunnel dong. Gue jam 3 harus cabut nih.”
Dia: “iya, gue tadi makan dulu.”
Blablablaaaa
Saya: “ya udah, saya tunggu sampe jam 3 ya.”
Klik. Balikin batrai. Menunggu, menunggu, menunggu lama sekaliiii, saya hampir frustasi. Naik, turun, naik, turun. Dan sampai jam 3, dari 2 orang kelompok saya gak ada yang ke tunnel, sedih sekali. Dengan berat hati saya beranjak ke BIP karena janji menemani adik saya cari sepatu. Gak penting sih, tapi sudah terlanjur janji.
Dan diklat berikutnya: “Temen-temen habis ini batuin nyelesein tugas kelompok kemaren ya.”
Intinya mah, sampai sore pun saya hanya ditemani 3 orang dari kelompok saya untuk menyelesaikan tugas itu, dan satu lagi yang tiba-tiba ‘dipaksa’ karena ketemu saat dia keluar tunnel.
Masih dengan sabar saya menelpon sang anakSAPPK yang katanya mau nyusul.
Saya: “Eh elu dimana? Katanya mau bantuin?”
dia: “Eh, sorry sorry gue lupa. Ini lagi makan?”
Saya: “Masih lama ngga?”
Dia: “lama sih kaya’nya”
Dan blabla bla akhirnya puncak kesabaran saya sudah di ambang batas. Dengan amat sangat kecewa ku tutup telpon tanpa ada kalimat penyudah percakapan.
Jadi intinya, hargailah orang lain, pedulilah dengan kepentingan kelompokmu, tepati janji!
Kemampuan bekerjasama itu penting, kawan. Kalian tak akan selamanya bisa berdiri di atas kepandaian kalian sendiri. Kalian butuh orang lain sebagai makhluk sosial.
Mulai hargai teman-temanmu jika ingin dihargai oleh mereka.
Mulai peduli dengan kelompokmu kalau ingin dipedulikan dan dibantu orang lain.
Dengarkan orang bicara, jangan sok ngga butuh, jangan egois kawan, kita tidak hidup sendiri.
Ya, sekian sajalah. Semoga sedikit bermanfaat untuk pembelajaran bersama .
P.s : THANKS BUAT YANG UDAH MAU BANTUIN NYELESEIN TUGAS KELOMPOK 44. Semoga kelompok ini akan lebih kompak
x)
^^
BalasHapus