REFILS
Kami bukan GENG kawan ! tentu saja bukan, itu berlebihan, di mata saya kata “geng” terlalu individualis, terlalu tidak bisa berbaur dengan yang lainnya. Mungkin memang pengertian geng juga sekelompok orang yang memiliki hubungan pertemanan yang lebih dekat atau memiliki minat yang sama. Banyak juga teman-teman SMA yang menjuluki kami nge’Geng’, tapi jujur saya kurang suka dengan pernyataan itu.
REFILS hanyalah sebuah singkatan dari saya dan sahabat-sahabat saya (Ratih-Emmy-Fifi-Irma-Lia-Seli), sahabat yang benar-benar saya sayangi. Semuanya berawal dari kedekatan yang memang sama sekali tidak disengaja di awal SMA, mungkin karena 4 orang dari kami adalah teman satu kelas di SMP, tapi itu tidak terlalu ada hubungannya, toh dulu saat SMP saya benar-benar ANSOS. tiba-tiba rasa kekeluargaann itu muncul begitu saja. Terlalu sering bersama, terlalu sering bercerita, membuat kami jadi semakin dekat, kami merasa harus saling menjaga satu sama lain, kami merasa harus berbagi cerita pada yang lain, kami merasa harus saling menghibur di saat ada yang sedih. Keharusan-keharusan kecil seperti itu terjadi begitu saja, kami menikmati kebersamaan kami semua. Yah, itu membuat hari-hariku di SMA menjadi sangat amat berwarna--- di samping teman-teman IPA 1 yang menurut saya sangatlah super dan sudah saya anggap seperti saudara.
Tadi sore, saya baru saja menikmati kehangatan bersama mereka, tanpa Ratih, setelah sekian lama tidak berkumpul (sepertinya hampir 8 bulan. Itu lama sekali ><) ! dan saya benar-benar menikmati seseorean ini, terjebak di tengah hujan deras hingga mati lampu tapi tak sedikitpun kami berhenti bermain dan bercanda. Andai tiap hari seperti itu :D
Tulisan ini saya persembahkan spesial untuk saudara-sahabat-penyemangat hidup saya, Ratih (mbak atih) – Emmy (momo) – Irma (mami) – Lia (adek lio) – Seli (iyut) .
cekidoot :D (maaf kalo jelek, hanya celotehan seorang bocah)
Rasanya berat sekali mengakhiri waktu pertemuan kita
Enggan kaki ini melangkah keluar dari tingkah-tingkah kita
Fikirpun tak tahu kenapa aku begitu menikmati waktu bersama kalian
Ingin menghentikan waktu saja biar kita sama-sama terus
Lama sudah aku merindukan saat-saat ini
Saat bersama dan mengenang segala kelakuan kita
Rupa-rupa hal yang telah kita perbuat
Entah baik, entah bodoh, entah kacau, entahlah terlalu banyak
Fantasi-fantasi tentang masa depan kelak
Impian serta harapan yang ingin terwujudkan
Lembar kalimat tak kan mampu melukiskan
Segala perasaan yang telah terciptakan
Rindu aku dengan sosok yang mampu berpikir jernih dan jauh ke depan
Rapi dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya
Estetika dan melankolis yang melekat padanya
Emosi yang sering dikeluarkan lewat air matanya
Impian dan tekad yang begitu besar
Indahnya kalimat bijak untukku saat aku terjatuh
Langkah yang cepat dan pasti darinya
Layaknya anak kecil penuh keceriaan
Semangat yang saling diberikan
Sosok yang dewasa dan membuatku betah berlama cerita
REFILS,
Enggak tau mau bilang apa lagi,
Final Wish dariku:
Ingatlah segala impian dan cita-cita yang telah masing-masing dari kita ucapkan
Langkah semangat dan akan membawa kita pemberhentian mimpi kita saat terwujud kelak
Semoga persahabatan dan persaudaraan kita tetap terjaga sampai akhir hayat :)
Mungkin segitu aja yang bisa saya bagi ke kalian. Terimakasih REFILS, terimakasih teman-teman dan saudara-saudaraku. aku sayang kalian semuaaa XDD
mencoba berceloteh dan mempelajari berbagai pelajaran kehidupan agar lebih baik ke depannya ^^
Minggu, 12 September 2010
Rabu, 08 September 2010
08.09.10
Jogjaa! Akhirnya ke sini lagi. Yah, mungkin emang belum ada setahun saya singgah di kota ini. Tapi entah kenapa saya merindukan kota ini. Saya rindu akan keramahan warga Jogja dan berbagai suasana yang penuh keramahan. Saya rindu berbelanja di malioboro (haha.. super gak penting), tapi memang itu yang salah satu yang saya rindukan di kota ini.
Kemarin pagi saya sudah sampai, berangkat dari bandung jam 9 malam, cukup lama memang, tapi toh saya menikmati perjalanan ini.
Hari ini sebenarnya saya sedang tidak terlalu ingin pergi kemana-mana, tapi toh tujuan saya ke sini salah satunya ya belanja dan bersenang-senang jadi saya singkirkan ego buat malas-malasan. Dan juga kemarin seharian saya juga nggak kemana-mana karena hujan deras dan badan benar-benar susah beranjak dari kasur hotel. Setelah berebut untuk mandi belakangan dengan adik saya yang paling rese (ketauan males mandi. =D), akhirnya ngerasa lebih tua dan harus ngalah jadilah saya mandi duluan dengan TERPAKSA! (-_____-“)
Semua beres mandi (saya dan adik saya), menunggu ibu' datang ke kamar baru deh cao ke malioboro. Berhubung saat itu ibu’ lagi gak enak badan dan gak kuat jalan lama akhirnya kami memutuskan balik ke hotel. Ya sudahlah, yang penting sudah keturutan belanjanya.
Setelah susah payah pulang (karena kondisinya: kami bertiga pulang dengan satu becak, bisa dibayangkan gimana duduknya), di hotel adik saya masih terus ngoceh minta diajak ke XXI. Aah, males banget saya sebenarnya karena gak tau mau nonton apa juga. Berhubung saya kakak yang baik hati jadilah saya menurutinya, dan kali ini benarbenar TERPAKSA =D. Saya mengambil tas dan siap untuk pergi, tapi ternyata cuaca berpihak pada saya, sekali lagi hujan deras mengguyur kota ini. saya hanya meringis, adik saya kembali merebahkan diri ke kasur dengan kesal (sepertinya).
“mbak, kalau udah terang dikit berangkat ya. Naik mobil kan gak bakal kehujanan.” Kata adik saya.
Saya hanya tersenyum. Setelah lebih dari satu jam hujan akhirnya ‘sedikit’ reda, adik saya dengan cepat seakan nggak mau cuaca berubah lagi segera memanggil sopir yang ada di kamar sebelah. Yah, karena saya dan adik saya tidak ada yang bisa nyetir mobil jadilah kita minta diantar sopir. Ternyata pak sopir gak tau arah menuju XXI lewat dalam kota, kalau saya ya jangan ditanya, udah pasti lupa jalannya. Jadilah kami memutar lewat jalanan sepi, sepi tapi indah pemandangannya, tapi juga memakan waktu lebih lama. Akhirnya hampir 90 menit sampai juga di tempat tujuan. Saya menyuruh pak sopir kembali ke hotel saja, biar nanti saya dan adik saya naik bus trans jogja.
Tanpa berpikir lama kami memutuskan nonton Sang Pencerah, alasannya simple : suara dari mikrofon yang terdengar “.. studio dua telah dibuka, penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki ruangan”. Saya segera membeli dua tiket untuk film di studio 2 –Sang Pencerah-, kebetulan masih banyak kursi kosong dan tempat favorit saya –di bangku belakang- ada dua yang kosong, kebetulan yang menyenangkan.
Film nya keren bangeeet lah, recommended :D !
Pulang dari nonton saya mulai panic, hujan tak kunjung reda, saya lupa ngambil duit, duit di dompet tinggal selembar limapuluhribu dan beberapa lembar duaribuan. Nanya ke mbakmbak aatm BNI terdekat ngga ada katanya. Di samping itu juga di sana gak ada mushola, kata mbakmbak yang jaga kalau mau sholat di masjid, dekat dari situ. Karena saya dan adik saya samasama buta arah kami malah bolak balik mondar mandir keluar masuk XXI tanpa tujuan yang jelas karena bingung mau kemana, dan dengan bodohnya setelah saya memutuskan untuk segera naik bis-trans-jogja kita malah menghabiskan waktu buat foto-foto dulu. Setelah merasa kebodohan kami menghabiskan waktu kami segera menuju halte terdekat (sebelumnya sempat nyebrang ke supermarket di depan halte, masih mencoba mencari mushola, karena nihil akhirnya nyebrang lagi ke halte). Saya memutuskan segera ke malioboro mall, sholat dan cari makanan buka puasa.
Perjalanan 20 menit, abis sholat dan kepanikan muncul lagi.
“Put, duitku cukup buat makan nggak ya?”
“Cukup-cukup. Ntar cari atm aja dulu. Biasanya di mall ada atm kan.”
“Kamu beneran gak bawa duit?”
“Nggak, mbak. Kan dompetku ditinggal di kasur.”
Mampus lah, kami masih sempatsempatnya bertengkar mau makan apa. Ada saja yang diributkan, kalau mau simple ya udah McD atau hokben aja usulku, tapi adikku mau KFC. Gak ada yang bener-bener mau ngalah, akhirnya setelah berdebat cukup lama kami memutuskan makan di lesehan aja, “lebih murah juga” batinku sebelum makan. Belum sempat ambil duit dan sekali lagi kebodohanku muncul, tanpa melihat harga makanan aku asal pesan aja.
“Eh, mbak ayamnya harganya 18ribu loh.” Kata adikku setelah kertas pesanan saya serahkan ke pelayan.
“Hah? Seriusan?” saya segera melihat daftar harga, saya menghitung dengann cepat. SHIT, totalnya 55rb! Tanpa banyak kata saya segera lari ke mall buat ngambil duit. Dalam hati saya bener-benar masih marah, Cuma makan ayam goreng 2 ama nasi ama esteh ama es jeruk totalnya 55 ribu. SHIT, DAMN, berbagai umpatan keluar. saya segera lari ke malioboro mall lagi
“Pak, atm BNI paling deket mana ya?”tanyaku ke pak satpam.
“seratus meter dari sini, mbak.”
“seratus meter itu jauh nggak pak.”
Satpamnya tertawa, “nggak kok mbak, lurus aja.”
Di pikiranku, 100 meter itu jauh banget ><, tapi ternyata setelah jalan nggak juga. Sempat tenang sebentar, dan sial, ATM sedang diperbaikin. Anjiiiiiiir, sial banget lah hari itu. Saya membuka dompet untuk memastikan jumlah uang saya, dan Alhamdulillah ada 62 ribu, itu artinya cukup buat ongkos makan yang sumpah mahal parah! saya balik lagi ke tempat makan dengan masih panik.
“Gimana dong ini.”
“cukup-cukup. Tenang aja.”
Pesananpun datang, SHIT! Tidak sesuai harganya. Saya benar-benar mengutuk hari itu. Tapi untunglah, uang di dompet saya cukup untuk bayar pesanan, Cuma tersisa beberapa ribu saja.
“Ikhlas.. Ikhlas..” dalam hati saya terus mengumandangkan kata ikhlas di perjalanan pulang. Bukannya gimanagimana, saya kesel berat, makan lesehan aja mahal minta ampun. Saya mencoba mengambil semua pelajaran yang ada hari ini.
Whatever, saya masih begitu mengagumi suasana di kota ini.
Kemarin pagi saya sudah sampai, berangkat dari bandung jam 9 malam, cukup lama memang, tapi toh saya menikmati perjalanan ini.
Hari ini sebenarnya saya sedang tidak terlalu ingin pergi kemana-mana, tapi toh tujuan saya ke sini salah satunya ya belanja dan bersenang-senang jadi saya singkirkan ego buat malas-malasan. Dan juga kemarin seharian saya juga nggak kemana-mana karena hujan deras dan badan benar-benar susah beranjak dari kasur hotel. Setelah berebut untuk mandi belakangan dengan adik saya yang paling rese (ketauan males mandi. =D), akhirnya ngerasa lebih tua dan harus ngalah jadilah saya mandi duluan dengan TERPAKSA! (-_____-“)
Semua beres mandi (saya dan adik saya), menunggu ibu' datang ke kamar baru deh cao ke malioboro. Berhubung saat itu ibu’ lagi gak enak badan dan gak kuat jalan lama akhirnya kami memutuskan balik ke hotel. Ya sudahlah, yang penting sudah keturutan belanjanya.
Setelah susah payah pulang (karena kondisinya: kami bertiga pulang dengan satu becak, bisa dibayangkan gimana duduknya), di hotel adik saya masih terus ngoceh minta diajak ke XXI. Aah, males banget saya sebenarnya karena gak tau mau nonton apa juga. Berhubung saya kakak yang baik hati jadilah saya menurutinya, dan kali ini benarbenar TERPAKSA =D. Saya mengambil tas dan siap untuk pergi, tapi ternyata cuaca berpihak pada saya, sekali lagi hujan deras mengguyur kota ini. saya hanya meringis, adik saya kembali merebahkan diri ke kasur dengan kesal (sepertinya).
“mbak, kalau udah terang dikit berangkat ya. Naik mobil kan gak bakal kehujanan.” Kata adik saya.
Saya hanya tersenyum. Setelah lebih dari satu jam hujan akhirnya ‘sedikit’ reda, adik saya dengan cepat seakan nggak mau cuaca berubah lagi segera memanggil sopir yang ada di kamar sebelah. Yah, karena saya dan adik saya tidak ada yang bisa nyetir mobil jadilah kita minta diantar sopir. Ternyata pak sopir gak tau arah menuju XXI lewat dalam kota, kalau saya ya jangan ditanya, udah pasti lupa jalannya. Jadilah kami memutar lewat jalanan sepi, sepi tapi indah pemandangannya, tapi juga memakan waktu lebih lama. Akhirnya hampir 90 menit sampai juga di tempat tujuan. Saya menyuruh pak sopir kembali ke hotel saja, biar nanti saya dan adik saya naik bus trans jogja.
Tanpa berpikir lama kami memutuskan nonton Sang Pencerah, alasannya simple : suara dari mikrofon yang terdengar “.. studio dua telah dibuka, penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki ruangan”. Saya segera membeli dua tiket untuk film di studio 2 –Sang Pencerah-, kebetulan masih banyak kursi kosong dan tempat favorit saya –di bangku belakang- ada dua yang kosong, kebetulan yang menyenangkan.
Film nya keren bangeeet lah, recommended :D !
Pulang dari nonton saya mulai panic, hujan tak kunjung reda, saya lupa ngambil duit, duit di dompet tinggal selembar limapuluhribu dan beberapa lembar duaribuan. Nanya ke mbakmbak aatm BNI terdekat ngga ada katanya. Di samping itu juga di sana gak ada mushola, kata mbakmbak yang jaga kalau mau sholat di masjid, dekat dari situ. Karena saya dan adik saya samasama buta arah kami malah bolak balik mondar mandir keluar masuk XXI tanpa tujuan yang jelas karena bingung mau kemana, dan dengan bodohnya setelah saya memutuskan untuk segera naik bis-trans-jogja kita malah menghabiskan waktu buat foto-foto dulu. Setelah merasa kebodohan kami menghabiskan waktu kami segera menuju halte terdekat (sebelumnya sempat nyebrang ke supermarket di depan halte, masih mencoba mencari mushola, karena nihil akhirnya nyebrang lagi ke halte). Saya memutuskan segera ke malioboro mall, sholat dan cari makanan buka puasa.
Perjalanan 20 menit, abis sholat dan kepanikan muncul lagi.
“Put, duitku cukup buat makan nggak ya?”
“Cukup-cukup. Ntar cari atm aja dulu. Biasanya di mall ada atm kan.”
“Kamu beneran gak bawa duit?”
“Nggak, mbak. Kan dompetku ditinggal di kasur.”
Mampus lah, kami masih sempatsempatnya bertengkar mau makan apa. Ada saja yang diributkan, kalau mau simple ya udah McD atau hokben aja usulku, tapi adikku mau KFC. Gak ada yang bener-bener mau ngalah, akhirnya setelah berdebat cukup lama kami memutuskan makan di lesehan aja, “lebih murah juga” batinku sebelum makan. Belum sempat ambil duit dan sekali lagi kebodohanku muncul, tanpa melihat harga makanan aku asal pesan aja.
“Eh, mbak ayamnya harganya 18ribu loh.” Kata adikku setelah kertas pesanan saya serahkan ke pelayan.
“Hah? Seriusan?” saya segera melihat daftar harga, saya menghitung dengann cepat. SHIT, totalnya 55rb! Tanpa banyak kata saya segera lari ke mall buat ngambil duit. Dalam hati saya bener-benar masih marah, Cuma makan ayam goreng 2 ama nasi ama esteh ama es jeruk totalnya 55 ribu. SHIT, DAMN, berbagai umpatan keluar. saya segera lari ke malioboro mall lagi
“Pak, atm BNI paling deket mana ya?”tanyaku ke pak satpam.
“seratus meter dari sini, mbak.”
“seratus meter itu jauh nggak pak.”
Satpamnya tertawa, “nggak kok mbak, lurus aja.”
Di pikiranku, 100 meter itu jauh banget ><, tapi ternyata setelah jalan nggak juga. Sempat tenang sebentar, dan sial, ATM sedang diperbaikin. Anjiiiiiiir, sial banget lah hari itu. Saya membuka dompet untuk memastikan jumlah uang saya, dan Alhamdulillah ada 62 ribu, itu artinya cukup buat ongkos makan yang sumpah mahal parah! saya balik lagi ke tempat makan dengan masih panik.
“Gimana dong ini.”
“cukup-cukup. Tenang aja.”
Pesananpun datang, SHIT! Tidak sesuai harganya. Saya benar-benar mengutuk hari itu. Tapi untunglah, uang di dompet saya cukup untuk bayar pesanan, Cuma tersisa beberapa ribu saja.
“Ikhlas.. Ikhlas..” dalam hati saya terus mengumandangkan kata ikhlas di perjalanan pulang. Bukannya gimanagimana, saya kesel berat, makan lesehan aja mahal minta ampun. Saya mencoba mengambil semua pelajaran yang ada hari ini.
Bukankah banyak hal yang menyenangkan di balik hal yang menyebalkan itu?
Sesuatu yang diawali dengan keterpaksaan gak akan berakhir dengan kebaikan
Whatever, saya masih begitu mengagumi suasana di kota ini.
Minggu, 05 September 2010
mudiiiik
Akhirnya nulis juga setelah beberapa har ini saya lebih senang membaca, membaca apapun itu, buku ataupun blog orang lain. Jujur saya suka menulis, suka sekali, karena saya tidak tahu bisa produktif dalam bidang apalagi (kasian banget :D).
Yeah, akhirnya saya mudik juga ke kampung halaman saya #Ups! Kota halaman :p. setelah entah berapa lama saya tidak menginjakkan kaki ke tanah kelahiran saya itu. Menurut saya, mudik bukan hanya sekedar pulang ke kota asal dan bertemu keluarga. Saya menikmati mudik lebih dari itu, mudik artinya liburan (TENTUNYA!), terbebas dari berbagai pikiran kuliah maupun segala keorganisasian yang sangat menyenangkan, mudik adalah jalan-jalan, foto-foto ke tempat yang saya rindukan selama perjalanan ke sana, bertemu keluarga-keluarga yang hangat dan ramah, dan tentu saja bertemu teman-teman lama –terutama teman SMA- (sumpah, kangen parah lah saya ama mereka). Mudik, liburan, bukan hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk berboros-boros, harus tetap ada perubahan positif yang kita dapatkan.
Saat ini saya belum memikirkan perubahan positif apa itu, yang jelas saya ingin memanfaatkan liburan kali ini dengan belajar tentang –Event Organizer-. Yap, saya senang sekali bergabung di kepanitiaan dan bergabung bersama teman-teman hebat merancang dan mengeksekusi sebuah acara. Di tulisan saya dulu saya pernah menyebutkan bahwa saya tidak pernah nyaman bekerja di divisi selain acara. Saya juga tidak tahu kenapa, saya sudah sangat sering mendapat nasihat untuk “cobalah eksplore kemampuanmu di bidang lainnya”, saya sudah mencoba dan ternyata saya tidak nyaman. Bukankan kita akan merasa nyaman ketika bekerja dimana pekerjaan itu adalah passion kita.
Ngomongngomong tentang EO (semoga setelah lulus kuuliah saya bisa membuat perusahaan yang bergerak di bidang ini. Amiiiiin), bukan soal uang saja yang saya cari, tapi kenyamanan dan berbagai keseruan di dalamnya. Tapi saya tidak melupakan mimpi saya yang lain, bekerja di magazine atau perusahaan per-telekomunikasi-an. Mungkin dari dulu saya memang tidak pernah benar-benar berpikir untuk menjadi seorang ‘suruhan’ atau ‘karyawan’, mimpi saya terlalu tinggi, saya tidak ingin kehidupan ini biasa-biasa saja, tanpa tantangan.
Dan kenapa sekarang malah ngomongin EO dan mimpi saya ya =)), ah lupakan dulu. Mari kembali ke MUDIK! Saya benar-benar sangat menunggu saat-saat itu, saat-saat berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Saya tidak terlalu merindukan keluarga saya di Bojonegoro, toh orangtua saya ada di Bandung juga, dan keluarga dari sana baru saja berkunjung ke sini sekitar akhir bulan juli yang lalu. Yang benar-benar membuat saya tidak sabar tentu jalan-jalan dan menyusuri berbagai keseruan di dalamnya. Dan tentu saja, saya sangat ingin berkumpul bersama teman-teman sma saya, makan-makan, ngegosip, cerita, fotofoto, main kartu, dan semua yang menyenangkan.
Last statement, tunggu aku di sana lah ! =D ?
Yeah, akhirnya saya mudik juga ke kampung halaman saya #Ups! Kota halaman :p. setelah entah berapa lama saya tidak menginjakkan kaki ke tanah kelahiran saya itu. Menurut saya, mudik bukan hanya sekedar pulang ke kota asal dan bertemu keluarga. Saya menikmati mudik lebih dari itu, mudik artinya liburan (TENTUNYA!), terbebas dari berbagai pikiran kuliah maupun segala keorganisasian yang sangat menyenangkan, mudik adalah jalan-jalan, foto-foto ke tempat yang saya rindukan selama perjalanan ke sana, bertemu keluarga-keluarga yang hangat dan ramah, dan tentu saja bertemu teman-teman lama –terutama teman SMA- (sumpah, kangen parah lah saya ama mereka). Mudik, liburan, bukan hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk berboros-boros, harus tetap ada perubahan positif yang kita dapatkan.
Saat ini saya belum memikirkan perubahan positif apa itu, yang jelas saya ingin memanfaatkan liburan kali ini dengan belajar tentang –Event Organizer-. Yap, saya senang sekali bergabung di kepanitiaan dan bergabung bersama teman-teman hebat merancang dan mengeksekusi sebuah acara. Di tulisan saya dulu saya pernah menyebutkan bahwa saya tidak pernah nyaman bekerja di divisi selain acara. Saya juga tidak tahu kenapa, saya sudah sangat sering mendapat nasihat untuk “cobalah eksplore kemampuanmu di bidang lainnya”, saya sudah mencoba dan ternyata saya tidak nyaman. Bukankan kita akan merasa nyaman ketika bekerja dimana pekerjaan itu adalah passion kita.
Ngomongngomong tentang EO (semoga setelah lulus kuuliah saya bisa membuat perusahaan yang bergerak di bidang ini. Amiiiiin), bukan soal uang saja yang saya cari, tapi kenyamanan dan berbagai keseruan di dalamnya. Tapi saya tidak melupakan mimpi saya yang lain, bekerja di magazine atau perusahaan per-telekomunikasi-an. Mungkin dari dulu saya memang tidak pernah benar-benar berpikir untuk menjadi seorang ‘suruhan’ atau ‘karyawan’, mimpi saya terlalu tinggi, saya tidak ingin kehidupan ini biasa-biasa saja, tanpa tantangan.
Dan kenapa sekarang malah ngomongin EO dan mimpi saya ya =)), ah lupakan dulu. Mari kembali ke MUDIK! Saya benar-benar sangat menunggu saat-saat itu, saat-saat berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Saya tidak terlalu merindukan keluarga saya di Bojonegoro, toh orangtua saya ada di Bandung juga, dan keluarga dari sana baru saja berkunjung ke sini sekitar akhir bulan juli yang lalu. Yang benar-benar membuat saya tidak sabar tentu jalan-jalan dan menyusuri berbagai keseruan di dalamnya. Dan tentu saja, saya sangat ingin berkumpul bersama teman-teman sma saya, makan-makan, ngegosip, cerita, fotofoto, main kartu, dan semua yang menyenangkan.
Last statement, tunggu aku di sana lah ! =D ?
Langganan:
Postingan (Atom)