mencoba berceloteh dan mempelajari berbagai pelajaran kehidupan agar lebih baik ke depannya ^^
Rabu, 13 Oktober 2010
ganti
pengen ganti blog aja. gak tau kenapa.
mungkin sebel karena saya jarang nge post lagi #gak ada hubungannya.
intinya pengen ganti aja. haha.. dasar labiiil.
cekidoot http://nmfifi.wordpress.com
obrolan via ym
lagi benerbener gak niat belajar sejak semalem.
di saat tementemen EL dan IF ujian alstrukdat 4 sks (baca : all stroke death).
dan saya sebagai anak TELKOM hanya ujian PKN. hm... bukan meremehkan, cuma gak pengen berlebihan =))
lagi labil (atau lagilagi labil.
tapi saya sedang tidak ingin membahas atau menuliskan penyebab kelabilan saya itu.
saya lagi keinget ama obrolan malam tadi bersama seorang teman yang biasa nemenin kelabilan saya.
simple, masalah mimpi.
dia yang terobsesi dengan impiannya menjadi dokktor sebelum usia 25 tahun. dan saya terobsesi dengan perancis :))
saya ingin kuliah di sana. tapi saya pikir itu hanya sebuah keinginan. tapi jalanjalan di paris, yap cuma sekedar jalanjalan. tanpa ada beban pikiran. adalah impian saya sejak dulu kala :D
yap. impian itu motivasi. impian itu energi. impian itu sesuatu yang bisa membuat kita begitu freak. impian itu bukan untuk dipendam dan dilupakan begitu saja. impian itu bukan untuk sekedar imajinasi tanpa usaha untuk mencapainya. impian itu bukan sesuatu yang dibuang di saat kita merasa itu terlalu tinggi.
i love my dream. and i believe. some day i can realize it. :)
apatis entah ansos
Akhirnya setelah proses pengaderan himpunan yang cukup lama Alhamdulillah sekarang saya udah resmi jadi anggota biasa HME 2010. Walaupun proses pelantikannya kurang dapat ‘gregetnya’, tapi ya sudahlah, yang penting itu prosesnya. Bukan begitu?
Lalu sekarang saya nulis ngapain? Mau cerita kaderisasi? Tentu tidak, saya sedang tidak ingin menulis tentang itu. Tentang praktikum? Ah, lupakanlaaah. Tentang kuliah? Apalagi ituuuu.
kelabilan di tengah ujian
baiklah, saat ini saya sedang memikirkan diri saya dan keansosan saya ini. entahlah, saya juga tidak tahu kenapa saya merasa perlahan demi perlahan menarik diri dari kegiatan kemahasiswaan terpusat. Saya tahu itu bukan saya banget, tapi toh mau gimana lagi, saya benar-benar tidak bisa membagi waktu dengan baik. Saya tetap menikmati event-event di kampus ini, tapi hanya sebagai penikmat. Bukan panitia (lagi). Oke, saya tahu saya harus bentuk karakter di sini. saya harus belajar dengan baik juga disini.
saya lebih mementingkan zona nyaman saya untuk beristirahat daripada kumpul ini itu. saya tau saya juga harus merhatiin kesehatan, tapi toh saya dulu benerbener bisa gak nganggep rasa sakit itu ada sebelum saya benarbenar parah. saya masih bisa ikut ini itu. dan sekarang. ah sudahlah. lupakan.
saya ingin. ingin sekali seperti mereka. mereka yang sukses kehidupan kuliahnya. tak hanya akademik mau digimanain juga saya gak suka yang namanya belajar serius atau apapun itulah. saya pengen cepat lulus. tapi saya masih pengen di sini menikmati segala hal yang sangat menyenangkan.
ah, saya labil parah. daripada ngoceh gak jelas atuhllaaah...
cuma pengen bisa bagi waktu aja. pengen kontributuif. dan gak ANSOS!
Minggu, 12 September 2010
REFILS
Kami bukan GENG kawan ! tentu saja bukan, itu berlebihan, di mata saya kata “geng” terlalu individualis, terlalu tidak bisa berbaur dengan yang lainnya. Mungkin memang pengertian geng juga sekelompok orang yang memiliki hubungan pertemanan yang lebih dekat atau memiliki minat yang sama. Banyak juga teman-teman SMA yang menjuluki kami nge’Geng’, tapi jujur saya kurang suka dengan pernyataan itu.
REFILS hanyalah sebuah singkatan dari saya dan sahabat-sahabat saya (Ratih-Emmy-Fifi-Irma-Lia-Seli), sahabat yang benar-benar saya sayangi. Semuanya berawal dari kedekatan yang memang sama sekali tidak disengaja di awal SMA, mungkin karena 4 orang dari kami adalah teman satu kelas di SMP, tapi itu tidak terlalu ada hubungannya, toh dulu saat SMP saya benar-benar ANSOS. tiba-tiba rasa kekeluargaann itu muncul begitu saja. Terlalu sering bersama, terlalu sering bercerita, membuat kami jadi semakin dekat, kami merasa harus saling menjaga satu sama lain, kami merasa harus berbagi cerita pada yang lain, kami merasa harus saling menghibur di saat ada yang sedih. Keharusan-keharusan kecil seperti itu terjadi begitu saja, kami menikmati kebersamaan kami semua. Yah, itu membuat hari-hariku di SMA menjadi sangat amat berwarna--- di samping teman-teman IPA 1 yang menurut saya sangatlah super dan sudah saya anggap seperti saudara.
Tadi sore, saya baru saja menikmati kehangatan bersama mereka, tanpa Ratih, setelah sekian lama tidak berkumpul (sepertinya hampir 8 bulan. Itu lama sekali ><) ! dan saya benar-benar menikmati seseorean ini, terjebak di tengah hujan deras hingga mati lampu tapi tak sedikitpun kami berhenti bermain dan bercanda. Andai tiap hari seperti itu :D
Tulisan ini saya persembahkan spesial untuk saudara-sahabat-penyemangat hidup saya, Ratih (mbak atih) – Emmy (momo) – Irma (mami) – Lia (adek lio) – Seli (iyut) .
cekidoot :D (maaf kalo jelek, hanya celotehan seorang bocah)
Rasanya berat sekali mengakhiri waktu pertemuan kita
Enggan kaki ini melangkah keluar dari tingkah-tingkah kita
Fikirpun tak tahu kenapa aku begitu menikmati waktu bersama kalian
Ingin menghentikan waktu saja biar kita sama-sama terus
Lama sudah aku merindukan saat-saat ini
Saat bersama dan mengenang segala kelakuan kita
Rupa-rupa hal yang telah kita perbuat
Entah baik, entah bodoh, entah kacau, entahlah terlalu banyak
Fantasi-fantasi tentang masa depan kelak
Impian serta harapan yang ingin terwujudkan
Lembar kalimat tak kan mampu melukiskan
Segala perasaan yang telah terciptakan
Rindu aku dengan sosok yang mampu berpikir jernih dan jauh ke depan
Rapi dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya
Estetika dan melankolis yang melekat padanya
Emosi yang sering dikeluarkan lewat air matanya
Impian dan tekad yang begitu besar
Indahnya kalimat bijak untukku saat aku terjatuh
Langkah yang cepat dan pasti darinya
Layaknya anak kecil penuh keceriaan
Semangat yang saling diberikan
Sosok yang dewasa dan membuatku betah berlama cerita
REFILS,
Enggak tau mau bilang apa lagi,
Final Wish dariku:
Ingatlah segala impian dan cita-cita yang telah masing-masing dari kita ucapkan
Langkah semangat dan akan membawa kita pemberhentian mimpi kita saat terwujud kelak
Semoga persahabatan dan persaudaraan kita tetap terjaga sampai akhir hayat :)
Mungkin segitu aja yang bisa saya bagi ke kalian. Terimakasih REFILS, terimakasih teman-teman dan saudara-saudaraku. aku sayang kalian semuaaa XDD
Rabu, 08 September 2010
08.09.10
Kemarin pagi saya sudah sampai, berangkat dari bandung jam 9 malam, cukup lama memang, tapi toh saya menikmati perjalanan ini.
Hari ini sebenarnya saya sedang tidak terlalu ingin pergi kemana-mana, tapi toh tujuan saya ke sini salah satunya ya belanja dan bersenang-senang jadi saya singkirkan ego buat malas-malasan. Dan juga kemarin seharian saya juga nggak kemana-mana karena hujan deras dan badan benar-benar susah beranjak dari kasur hotel. Setelah berebut untuk mandi belakangan dengan adik saya yang paling rese (ketauan males mandi. =D), akhirnya ngerasa lebih tua dan harus ngalah jadilah saya mandi duluan dengan TERPAKSA! (-_____-“)
Semua beres mandi (saya dan adik saya), menunggu ibu' datang ke kamar baru deh cao ke malioboro. Berhubung saat itu ibu’ lagi gak enak badan dan gak kuat jalan lama akhirnya kami memutuskan balik ke hotel. Ya sudahlah, yang penting sudah keturutan belanjanya.
Setelah susah payah pulang (karena kondisinya: kami bertiga pulang dengan satu becak, bisa dibayangkan gimana duduknya), di hotel adik saya masih terus ngoceh minta diajak ke XXI. Aah, males banget saya sebenarnya karena gak tau mau nonton apa juga. Berhubung saya kakak yang baik hati jadilah saya menurutinya, dan kali ini benarbenar TERPAKSA =D. Saya mengambil tas dan siap untuk pergi, tapi ternyata cuaca berpihak pada saya, sekali lagi hujan deras mengguyur kota ini. saya hanya meringis, adik saya kembali merebahkan diri ke kasur dengan kesal (sepertinya).
“mbak, kalau udah terang dikit berangkat ya. Naik mobil kan gak bakal kehujanan.” Kata adik saya.
Saya hanya tersenyum. Setelah lebih dari satu jam hujan akhirnya ‘sedikit’ reda, adik saya dengan cepat seakan nggak mau cuaca berubah lagi segera memanggil sopir yang ada di kamar sebelah. Yah, karena saya dan adik saya tidak ada yang bisa nyetir mobil jadilah kita minta diantar sopir. Ternyata pak sopir gak tau arah menuju XXI lewat dalam kota, kalau saya ya jangan ditanya, udah pasti lupa jalannya. Jadilah kami memutar lewat jalanan sepi, sepi tapi indah pemandangannya, tapi juga memakan waktu lebih lama. Akhirnya hampir 90 menit sampai juga di tempat tujuan. Saya menyuruh pak sopir kembali ke hotel saja, biar nanti saya dan adik saya naik bus trans jogja.
Tanpa berpikir lama kami memutuskan nonton Sang Pencerah, alasannya simple : suara dari mikrofon yang terdengar “.. studio dua telah dibuka, penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki ruangan”. Saya segera membeli dua tiket untuk film di studio 2 –Sang Pencerah-, kebetulan masih banyak kursi kosong dan tempat favorit saya –di bangku belakang- ada dua yang kosong, kebetulan yang menyenangkan.
Film nya keren bangeeet lah, recommended :D !
Pulang dari nonton saya mulai panic, hujan tak kunjung reda, saya lupa ngambil duit, duit di dompet tinggal selembar limapuluhribu dan beberapa lembar duaribuan. Nanya ke mbakmbak aatm BNI terdekat ngga ada katanya. Di samping itu juga di sana gak ada mushola, kata mbakmbak yang jaga kalau mau sholat di masjid, dekat dari situ. Karena saya dan adik saya samasama buta arah kami malah bolak balik mondar mandir keluar masuk XXI tanpa tujuan yang jelas karena bingung mau kemana, dan dengan bodohnya setelah saya memutuskan untuk segera naik bis-trans-jogja kita malah menghabiskan waktu buat foto-foto dulu. Setelah merasa kebodohan kami menghabiskan waktu kami segera menuju halte terdekat (sebelumnya sempat nyebrang ke supermarket di depan halte, masih mencoba mencari mushola, karena nihil akhirnya nyebrang lagi ke halte). Saya memutuskan segera ke malioboro mall, sholat dan cari makanan buka puasa.
Perjalanan 20 menit, abis sholat dan kepanikan muncul lagi.
“Put, duitku cukup buat makan nggak ya?”
“Cukup-cukup. Ntar cari atm aja dulu. Biasanya di mall ada atm kan.”
“Kamu beneran gak bawa duit?”
“Nggak, mbak. Kan dompetku ditinggal di kasur.”
Mampus lah, kami masih sempatsempatnya bertengkar mau makan apa. Ada saja yang diributkan, kalau mau simple ya udah McD atau hokben aja usulku, tapi adikku mau KFC. Gak ada yang bener-bener mau ngalah, akhirnya setelah berdebat cukup lama kami memutuskan makan di lesehan aja, “lebih murah juga” batinku sebelum makan. Belum sempat ambil duit dan sekali lagi kebodohanku muncul, tanpa melihat harga makanan aku asal pesan aja.
“Eh, mbak ayamnya harganya 18ribu loh.” Kata adikku setelah kertas pesanan saya serahkan ke pelayan.
“Hah? Seriusan?” saya segera melihat daftar harga, saya menghitung dengann cepat. SHIT, totalnya 55rb! Tanpa banyak kata saya segera lari ke mall buat ngambil duit. Dalam hati saya bener-benar masih marah, Cuma makan ayam goreng 2 ama nasi ama esteh ama es jeruk totalnya 55 ribu. SHIT, DAMN, berbagai umpatan keluar. saya segera lari ke malioboro mall lagi
“Pak, atm BNI paling deket mana ya?”tanyaku ke pak satpam.
“seratus meter dari sini, mbak.”
“seratus meter itu jauh nggak pak.”
Satpamnya tertawa, “nggak kok mbak, lurus aja.”
Di pikiranku, 100 meter itu jauh banget ><, tapi ternyata setelah jalan nggak juga. Sempat tenang sebentar, dan sial, ATM sedang diperbaikin. Anjiiiiiiir, sial banget lah hari itu. Saya membuka dompet untuk memastikan jumlah uang saya, dan Alhamdulillah ada 62 ribu, itu artinya cukup buat ongkos makan yang sumpah mahal parah! saya balik lagi ke tempat makan dengan masih panik.
“Gimana dong ini.”
“cukup-cukup. Tenang aja.”
Pesananpun datang, SHIT! Tidak sesuai harganya. Saya benar-benar mengutuk hari itu. Tapi untunglah, uang di dompet saya cukup untuk bayar pesanan, Cuma tersisa beberapa ribu saja.
“Ikhlas.. Ikhlas..” dalam hati saya terus mengumandangkan kata ikhlas di perjalanan pulang. Bukannya gimanagimana, saya kesel berat, makan lesehan aja mahal minta ampun. Saya mencoba mengambil semua pelajaran yang ada hari ini.
Bukankah banyak hal yang menyenangkan di balik hal yang menyebalkan itu?
Sesuatu yang diawali dengan keterpaksaan gak akan berakhir dengan kebaikan
Whatever, saya masih begitu mengagumi suasana di kota ini.
Minggu, 05 September 2010
mudiiiik
Yeah, akhirnya saya mudik juga ke kampung halaman saya #Ups! Kota halaman :p. setelah entah berapa lama saya tidak menginjakkan kaki ke tanah kelahiran saya itu. Menurut saya, mudik bukan hanya sekedar pulang ke kota asal dan bertemu keluarga. Saya menikmati mudik lebih dari itu, mudik artinya liburan (TENTUNYA!), terbebas dari berbagai pikiran kuliah maupun segala keorganisasian yang sangat menyenangkan, mudik adalah jalan-jalan, foto-foto ke tempat yang saya rindukan selama perjalanan ke sana, bertemu keluarga-keluarga yang hangat dan ramah, dan tentu saja bertemu teman-teman lama –terutama teman SMA- (sumpah, kangen parah lah saya ama mereka). Mudik, liburan, bukan hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk berboros-boros, harus tetap ada perubahan positif yang kita dapatkan.
Saat ini saya belum memikirkan perubahan positif apa itu, yang jelas saya ingin memanfaatkan liburan kali ini dengan belajar tentang –Event Organizer-. Yap, saya senang sekali bergabung di kepanitiaan dan bergabung bersama teman-teman hebat merancang dan mengeksekusi sebuah acara. Di tulisan saya dulu saya pernah menyebutkan bahwa saya tidak pernah nyaman bekerja di divisi selain acara. Saya juga tidak tahu kenapa, saya sudah sangat sering mendapat nasihat untuk “cobalah eksplore kemampuanmu di bidang lainnya”, saya sudah mencoba dan ternyata saya tidak nyaman. Bukankan kita akan merasa nyaman ketika bekerja dimana pekerjaan itu adalah passion kita.
Ngomongngomong tentang EO (semoga setelah lulus kuuliah saya bisa membuat perusahaan yang bergerak di bidang ini. Amiiiiin), bukan soal uang saja yang saya cari, tapi kenyamanan dan berbagai keseruan di dalamnya. Tapi saya tidak melupakan mimpi saya yang lain, bekerja di magazine atau perusahaan per-telekomunikasi-an. Mungkin dari dulu saya memang tidak pernah benar-benar berpikir untuk menjadi seorang ‘suruhan’ atau ‘karyawan’, mimpi saya terlalu tinggi, saya tidak ingin kehidupan ini biasa-biasa saja, tanpa tantangan.
Dan kenapa sekarang malah ngomongin EO dan mimpi saya ya =)), ah lupakan dulu. Mari kembali ke MUDIK! Saya benar-benar sangat menunggu saat-saat itu, saat-saat berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Saya tidak terlalu merindukan keluarga saya di Bojonegoro, toh orangtua saya ada di Bandung juga, dan keluarga dari sana baru saja berkunjung ke sini sekitar akhir bulan juli yang lalu. Yang benar-benar membuat saya tidak sabar tentu jalan-jalan dan menyusuri berbagai keseruan di dalamnya. Dan tentu saja, saya sangat ingin berkumpul bersama teman-teman sma saya, makan-makan, ngegosip, cerita, fotofoto, main kartu, dan semua yang menyenangkan.
Last statement, tunggu aku di sana lah ! =D ?
Kamis, 26 Agustus 2010
SUPER GABUT
Setelah semalem tidur begitu aja abis ngampus seharian, dan lupa dengan niat awal pengen gak tidur, tapi dengan kerjaan yg gak jelas juga buat begadang. Di saat temanteman lainnya begadang demi ngerjain laporan praktikum, saya hanya memadang bingung karena kebagian rombongan yang praktikumnya minggu depan, melihat betapa hecticnya mereka semua. saya takut tidak bisa membuat mata saya terbuka semalam utuh untuk mengerjakan itu semua nantinya. akhir-akhir ini gampang banget tidur, taruh badan di kasur tidur. duduk nyandar tidur. parah lah pokoknya. melihat teman-teman elektro pada ngelabil karena alstrukdat, dan lagi-lagi saya masih memandang bingung, sebagai anak telkom dengan dosen super santai saya ngerasa gak tahu apa-apa, belajar bahasa C dikit banget, dan menurut saya itu super nggak jelas parah, (atau emang saya yang terlalu bodoh, kurang tau juga =D )
melihat banyak teman-teman yang baru masuk unit atau bahkan menambah unit mereka, saya malah dengan perlahan mengurangi kegiatan saya, saya tau dengan begitu pembelajaran saya akan berkurang, tapi saya mencoba memaksimalkan di 'hanya' beberapa tempat saja.
tiap ada yang ngajakin "fi, ikut ini yuk" "fi, gabung kepanitiaan ini yuk" saya hanya tersenyum dengan arti "Nggak dulu deh.". saya selalu keinget omongan papah, "nduk, kegiatanmu dikurangi lah.", pas dulu saya masih TPB. mungkin sekarang kesannya saya sedikit ansos atau apapun lah, tapi saya tetap mencoba berkontribusi dan belajar semaksimalnya, tanpa harus ikut ini itu, biarlah nanti saya yang mementukan mana yang membutuhkan komitmen yang lebih besar.
kemaren- waktu lagi ngerjain tugas ws -, anak-anak mesin berkumpul di labtek 5, sedang kumpul angkatan memilih ketua baksos. saya jadi ingat saat-saat MBC dulu, saat-saat kumpul angkatan yang hampir tiap hari, dari pagi sampe malem, lebih melelahkan dari perkuliahan, tapi karena jauh lebih menyenangkan maka kelelahan itu tak terasa sama sekali. semangat elektroteknik 2009 sangat bekobar, tugas individu adalah tugas angkatan, saling membantu, saling menghargai, saling memahami dan mendukung, memberi semangat pada yang lain, membentuk rasa kekeluargaan hingga menuju satu kata -SOLID-. sayang itu belum terwujud karena nama kaderisasi yang bernama MBC 'selesai', dan kami sudah jadi anggota muda (meski belum semua), sekarang proses kaderisasinya adalah magang di divisi HME, stadium generale di tiap hari sabtu. isi dari proses tahap kedua tidak kalah bermanfaat dari MBC, tapi saya tidak merasakan lagi CINTA di saat itu, Masa Bina Cita boleh berakhir, tapi cinta yang belum terbina jangan lenyap begitu saja. apalah arti sebuah nama, ini semua tetaplah pembelajaran. tugas angkatan pun sudah tidak ada, dan yang ada? tugas individu? tugas kelompok? ya, terasa berbeda. saya tau, tugas-tugas itu sangatlah berguna,tapi saya terlalu egois untuk mau mengerjakannya.
kalau tidak suka, tidak saya kerjakan, mungkin saya juga sudah merasa kehilangan rasa 'cinta' itu, tapi saya masih ingin belajar, tenang saja. hanya mungkin sekarang saya mulai agak membangkang. tidak suka, tidak mengerjakan, merasa tidak penting, lewat saja. oke, saat itu yang terpikirkan adalah, saya tidak suka RANGKAIAN ! saya tidak suka ngoprek atau apapun lah tentang listrik,menurut saya cukuplah sudah bikinn flipflop. ini ada lagi tugas yang saya tidak suka. untuk pembelajaran? okelah, tapi toh saya hanya mendengarkan penjelasan teman saya tentang komponen ini itu, masuk telinga kiri, dan keluar darimana-man (mulai gak jelas), intinya banyakan yang keluar daripada yang masuk.
mungkin kesalahan saya sendiri sih tidak benar-benar niat belajar tentang elektro-elektroan, yak sekali lagi, itu bukan minat saya. tapi mungkin juga saya sudah mulai kehilangan kecintaan saya untuk mempelajarinya, mencari esensi seperti yang sering saya pikirkan.
saya juga tidak tau bagaimana menumbuhkan kecintaan itu lagi.
saya tidak tau bagaimana memunculkan semangat tanpa nama yang sama.
saya tidak tau apa jadinya kalau banyak orang seperti saya.
yang kalau tidak suka biarkan lewat saja.
mungkin ini juga pembelajaran untuk ke depannya. untuk generasi selanjutnya agar tidak jadi seperti saya. atau teman-teman yang lain agar tidak kehilangan semangat untuk terus belajar agar jadi individu dengan karakter terdidik.
saya benar-benar kangen kumpul angkatan dengan suasana saat awal-awal MBC x(
Minggu, 22 Agustus 2010
64
Tulisan ini saya buat special pake telur dan kornet keju buat 64 :D kelompok taplok saya, partner dan juga anak-anak saya. Haha.. menyenangkan sekali ada di antara kalian. Yah, itung-itung lagi males banget ama yang namanya RE! okelah, lupakan sejenak RE dan juga tugas bikin flipflop. Setelah seharian bersama 64 yang 64LAU walaupun isinya Cuma ketawa ketiwi dan main kartu tapi seharian ini menyenangkan meskipun saya harus melewatkan bikin flipflop bersama trooper ><
Jujur saya dulu niat jadi taplok adalah hanya menjadi kakak yang jauh lebih seru dari taplok saya jaman taun lalu :D (berasa udah lama banget). Saya gak tau sih saya udah lebih baik apa belum, soalnya penilaian saya sangat subjektif =p, menurut saya sih saya sudah jauh lebih baik (sombong parah). Saya bahkan bener-bener gak inget apa yang seru saat saya masih menjadi mahasiswa baru, tapi kalau saya melihat semangat dan tawa anak-anak taplok 64 saya benar-benar merasa mereka jauh lebih baik dari kelompok saya dulu. Okelah, memang saya tidak bisa menjamin semua anak taplok saya merasakan keseruan yang dirasakan mungkin 12 orang dari 20 orang, tapi setidaknya saya bisa menjamin mereka masih dapat terus aktif di kampus ini dan juga masih saling perhatian dan mengenal anggota 64 lainnya (kecuali 2 yang Cuma datang sekali. -_____-), saya yakin mereka mampu mengingat nama teman mereka. kalau mau ngebandingin sih, saya dulu bahkan gak tau ada berapa orang kelompok saya saat saya jadi maba, saya gak inget lagi siapa ketua kelompoknya, saya mungkin gak bisa nyebutin barang sepuluh aja temen sekelompok saya, bahkan hanya beberapa yang saya tau ‘terlihat’ di kampus. Oke mungkin saya dulu terlalu tidak mau tau, atau cuek? Atau pendiam? Sepertinya nggak, nggak tahu apa yang salah, orang dari dulu saya SANGUINIS parah :D ya sudahlah, gak ada gunanya ngebanding-bandingin, saya hanya mau dari taun ke taun kaderisasi seperti ini akan jadi semakin baik.
Oke, itu tujuan saya pada awalnya, ya memang tidak ada tujuan lain kecuali media pembelajaran. Tapi jujur saya jauh lebih senang berada di antara 64, saya senang melihat semangat-semangat mereka, saya senang melihat antusias mereka (sekali lagi, meskipun tidak semuanya). Jadi inget lagi di hari dapet pasangan taplok, yang saya gak kenal satupun di antara nama-nama yang jadi pasangan saya, tapi ternyata mereka adalah partner yang sangat amat baik, yang saling ngingetin, bahkan saking kompaknya satu orang gak dateng gak dateng semua =D simulasi, simulasi, simulasi, gladi resik, dan forbas terlewati dengan lancar dan penuh tawa (saya doang kaya’nya yang ketawa karna banyak godain keamanan). Saat hari-H pun tiba dengan tidak lancar di 2 hari pertama, super sedih, tapi biarlah, cobaan akan membuat seseorang menjadi lebih kuat. Dan beberapa hari kemudian saya mulai menikmati menjadi taplok, tidak mudah, memang tidak mudah menjaga semangat 20 orang, susah memang, tapi saya tau mereka adalah orang-orang yang sangant bersemangat \m/. awalnya sangat amat pendiam kelompok ini, kalau kata partner saya sih saya nya aja yang terlalu ramai, tapi jujur waktu itu saya udah benar-benar nyaman dengan mereka semua. Akhirnya setelah ngobrol personal (gak bareng-bareng maksudnya) satu per satu udah mulai ramai dan menyenangkan. Sangat menyenangkan bahkan.
saya memang tidak pandai mengatur orang lain agar menurut pada saya. saya hanya bisa menularkan semangat saya pada yang lainnya. menyedihkan memang kalau inget anak taplok saya ada lebih dari sepuluh tapi tidak semuanya mendapat suntikan semangat. sedih memang kalau inget betapa terkekangnya kebebasan saat itu. tapi kesedihan itu terbayar oleh semangat dari taplok-taplok yang lain, oleh canda dari mereka semua, oleh solusi-solusi untuk keterbatasan ini, dan oleh senyum bahagia duaribusepuluh.
tiba-tiba jadi inget waktu kumpul secara 'ilegal' di koboi, kami ceritakan apa yang akan terjadi di malam hari itu. dengan sangat semangat mereka menggebu-gebu ingin ikut acara 'closing', mereka ingin rasakan keseruan dengan menentang terpenjaranya kebebasan saat itu. tapi sekeetika semangat mereka luntur saat semua acara yang ada di bayangan mereka berubah total. hey guys! come on, semangat itu harus selalu ada, apaapun kondisinya. teruslah bersemangat maba duaribusepuluh yang bersemangat =D
mungkin tak banyak yang bisa saya tulis, tapi satu yang pasti :
Gak ada hal yang lebih membanggakan saat taplok melihat nanti anak taploknya jadi orang yang berguna bagi kampus. Semangat 64 yang 64LAU :D
luv u so muuuuuch :*
Selasa, 17 agustus 2010.
Minggu, 27 Juni 2010
saya bilang juga apa
Tuh kaaan, apa saya bilang, blog saya tidak terurus dengan baik >.<
Sebenarnya saya mulai lelah dengan semua pilihan yang ingin saya jalani. Diklat terpusat yang baru mulai nyaman dengan semua anggota kelompok, diklat divisi dengan anggota baru yang saya harap bisa menyenangkan juga, belum lagi osjur yang sebentar lagi dimulai. Saya tau pasti itu akan melelahkan, saya tau itu nanti akan menjemukan, tapi saya pengecut kalau saya menyerah di tengah jalan, saya pecundang kalau saya berhenti dari pilihan saya. Saya akan berusaha dengan sekuat tenaga menjalani semua ini, dengan tersenyum pasti sedikit demi sedikit kegiatan yang saya lakukan bisa terasa ringan dan menyenangkan. Bukankah hidup itu untuk dinikmati ? =)
Oke, dulu saya memang kurang pas dengan kelompok diklat terpusat saya, tapi sekarang, setelah sang ketua terpilih tidak lagi mengurusi kelompok, dan digantikan dengan seseorang yang padahal baru saja datang di diklat ke-3 tapi kelompok kami semakin kompak, dan semakin peduli dengan tugas. Setidaknya jauh lebih tertata dari yang lama, dari yang asalnya hanya berkumpul 5 orang sekarang tiap kumpul maksimal 12 orang. Itu kemajuan yang pesat. Hahaa =D
Akhir-akhir ini emosi saya tidak sesuai pada tempatnya, saya membentak ketika diajak ngobrol kakak saya, saya seenaknya saja menyuruh orang, dan saya bahkan ngambek karena tidak ada yang membantu saya mengerjakan tugas yang sebenarnya jadi tugas saya (ah, bodohnya saya!). bahkan saya jarang tersenyum tulus seperti saya yang biasanya. Jangan Tanya kenapa karena saya sendiri tidak tahuuuu. Mungkin lelah atau mungkin juga sedang mengalami siklus kelabilan (ada gitu ya?).
Apa ya yang sedang saya pikirkan saat ini? Saya sedang berpikir tentang apa sebenarnya potensi saya. Tadi pagi, saat mengerjakan tugas oskm teman saya menelpon : “Fi, surat buat Telkom udah jadi ini.” Ya, saya tau itu tugas saya sebagai divisi marketing. Saya harus menyerahkan proposal ke sana-sini. Saya kira itu mudah dan menyenangkan karena akan berinteraksi dengan banyak orang baru. Tapi entahlah, saya merasa itu bukan bidang yang saya ingin geluti. Jadi saya tadi hanya menjawab dengan malas “Aduh, gimana dong. Aku lagi ngerjain tugas oskm nih.” Saya tau, sepertinya teman saya itu kesal dengan tingkah saya. Tapi jujur, saya tidak suka dengan kegiatan itu. Itu bukan keahlian saya teman, saya benar-benar tidak menikmatinya meskipun saya sudah meyakinkan diri bahwa itu adalah kewajiban dan tanggung jawab saya. Selama ini saya selalu masuk divisi acara dari tiap kepanitiaan yang saya ikuti, dan saya benar-benar menikmatinya, saya rela datang ke kampus walau Cuma sebentar untuk mengkonsep atau mengurusi acara.
Saya tahu, ini komitmen, ini semua adalah pembelajaran, dan tentunya ini semua adalah tanggung jawab. Sebenarnya apa yang membuat saya tidak nyaman? Mungkin saja sih karena saya tidak biasa dengan pekerjaan itu, tapi bukankah ketika kita menemukan apa yang kita sukai kita akan mengerjakan segala sesuatunya tanpa merasa berat sama sekali. Saya sudah memilih, saya takut kalau nantinya saya akan kehilangan komitmen saya seperti beberapa bulan yang lalu karena sudah merasa tidak cocok dengan yang saya kerjakan. Semoga saja itu hanya ketakutan belaka, yang akan hilang seiring berjalannya waktu.
Tetap semangat dan tetap menjaga semangat teman-teman saya. Hanya itu yang ingin saya lakukan saat ini. =)
seharusnya ini diupload beberapa hari yang lalu :)
Sabtu, 19 Juni 2010
oleh-oleh dari kalimantan (part 2)
Sebenernya udah pengen nulis ini sejak sekian lama. Tapi baru sempet karena harus ini itu dan berbagai kesibukan lainnya yang tak kalah menyenangkan dari menulis.
Saat itu saya bisa mati bosan karena di rumah tante saya dan mengurus anak-anaknya yang super dan tak ada teman ngobrol. Well, saya memang suka anak-anak tetapi saya juga perlu istirahat! Saya hanya membolak-balik majalah yang sudah lebih dari 3 kali saya baca. Sesekali melirik handphone untuk melihat jam dan berharap tante saya segera pulang agar saya bisa tiduran walaupun sebentar. Singkat cerita akhirnya tante saya datang, dia merebahkan badannya di kasur, tampaknya lelah sekali.
Aku mendengarkannya bercerita sebentar, menanggapi sesekali.
Tante: “eh fi, kamu tau mbak ima itu dandannya sekarang modis loh!”
Sepertinya saya sudah mulai tahu arah pembicaraan ini. Mbak ima, itu sepupu saya, anak dari tante saya yang lain. Dulu dia memang gak pernah neko-neko kalo memakai baju, tapi saya akui memang dia gadis yang anggun.
Tante (lagi) : “kamu kenapa masih suka pakai kaos dan jeans doang sih? Dandan lebih cewek dong, fi. Biar keliatan anggun. Gak perlu pake rok, pake kemeja aja. Terus sepatunya jangan kaya cowok gitu”
Glek, saya hanya menelan ludah. Serasa tertusuk. Sepatu? Oke ini murni kesalahan saya, kasian juga papah saya yang selalu memberikan uang untuk membeli sandal, sepatu, atau apapun tapi saya hanya menumpuk barang-barang itu di lemari; dan dengan bodohnya kebiasan terburu-buru memakai sepatu yang ada di depan saya tanpa peduli pantas atau tidak. Yak, saya memang bodoh saat itu. Saya berangkat dengan memakai kemeja, jeans, dan sepatu model crocs (yg padahal katanya sedang tren :p). sempat sih ebrfikir sebentar, kok kaya gak cocok ya? Ah, sudahlah daripada harus masuk lagi untuk ganti sepatu saya pakailah sepatu itu, dan ternyata tante saya tidak suka dengan style itu. Haha, ya sudahlah. Kembali ke topik tentang wanita anggun yang tadi saya bilang.
Akhirnya saya berkata : “iya, lek. Maaf, kemejanya biasanya dipakai kuliah (boong banget). Trus sepatu itu memang waktu berangkat dari bandung cepet-cepetan, jadi pake yang ada di depan mata.”
Tante : “Pokoknya, aku mau ponakanku keliatan anggun. Kuliah di tempat yang banyak cowoknya gak berarti harus jadi cowok terlalu tomboy. Tomboy boleh tapi tetep harus modis.”
Akhirnya setelah itu tante saya keluar dari kamar dan kembali lagi dengan memberikan saya setumpuk uang (gak perlu disebutkan berapa), katanya buat belanja baju dan sepatu. Huaaaah, skak mat! Saya merasa sedikit dilecehkan (gak juga sih, hanya merasa menyesal pada orang tua saya yang selalu memberikan saya uang untuk belanja. Tapi saya nya malah beli kaos, sepatu kets, barang-barang gak guna, dll. Maaf papah TT ).
Dan sekarang saya berpikir, oke, anggun. Di mata saya anggun itu sopan, memakai pakaian rapi, rok mungkin, ramah. Dan saya bukan orang seperti itu. Selama kuliah saya hanya pernah memakai rok sekali, itupun karena tantangan dari teman saya. Rapi? Ngga tau deh saya apa itu rapi, yang penting saya merasa nyaman. Iya sih, saya juga ngerasa selama ini dandanan saya kaya anak sekolahan, saya gak pernah peduli dengan penampilan. asal masih make baju aja sih. =D
Okelah, saya salah. Saya terlalu gengsi untuk memakai pakaian yang berbau cewek-cewekan. Saya tau pakai rok itu tidak salah, tapi sekali lagi saya masih sangat gengsi. Tapi entah kenapa obrolan singkat itu sangat membuatku berpikir ulang tentang seorang wanita. Wanita yang tampak wanita.
Oke, pulang dari Banjarmasin saya mulai membenahi diri. Saya membongkar pakaian di lemari. Menyingkirkan kaos (gak dibuang sih, maksudnya dijadikan bukan prioritas). Dan yah, saya mulai belajar memakai rok tanpa rasa gengsi. Persetan lah dengan gengsi =D.
Hasilnya? Hoo yeah, untuk pertama kalinya saat keluar bersama adik saya, adik saya bilang kalau SAYA BERPAKAIAN LAYAKNYA ANAK KULIAH!! Yeah, emang selama ini penampilan saya begitu buruknya yaa >.<
yah, intinya sih saya berharap saya bisa jadi lebih cewek sajaaa :D
btw : part 1 ada di flashdisk, tapi saya lupa naruh dimana XD
Jumat, 18 Juni 2010
apa itu ya yang namanya kelompok?
Saya sudah cukup lelah dengan semua sikap mereka, saya terlalu bosan dengan team-work mereka. Tak Cuma sekali ini, ini berulang kali terjadi, entah kenapa puncak kelabilan saya untuk satu hal ini adalah malam ini. Saya memutuskan untuk tidak menonton bola malam ini, dan biarlah saya bercoletah tentang ‘kerja sama’ kelompok di kampus TERCINTA.
Sudah cukup sering kalimat “Teamwork anak ITB itu paling jelek” atau “Anak ITB itu gak bisa kerja sama pas di dunia kerja” atau “mereka terlalu egois”, yah kalimat seperti itu sudah sangat sering mampir di telinga saya. Saya ingin menepis pernyataan mereka, tapi saya sendiri kurang tahu apa saya sudah lebih baik dibandingkan orang-orang yang saya anggap kurang peduli dengan apa itu yang dinamakan “kerja kelompok”. Tahun pertama ini saya menemukan dan menganalisa berbagai cara “kerja kelompok” di kampus Ganesha ini. Saya cukup melihat sekitar saya saja dan itu terlihat dengan mudah. Ini hasil pengamatan saya (CMIIW, ini bersifat subjektif)
· ‘Dewa’ yang bekerja
Macam-macam caranya. Ada yang memang berkumpul, tapi hanya ‘dewa’ itu yang memikirkan dan mengerjakan segala macam pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan bersama. Banyak alasannya, mungkin sang ‘dewa’ merasa bahwa kalau bukan dia yang menghandle maka tak akan ada yang beres atau sang ‘pengikut’ merasa kalau dikerjakan bersama hasilnya tidak akan sesempurna bila hanya sang dewa yang bekerja. Ada juga yang terang-terangan menawarkan dia saja yang bekerja (jujur, ini banyak sekali teman. Entah mereka itu tahu atau tidak bagaimana perasaan anggota kelompoknya yang merasa disepelekan atau dianggap tak mampu). Yang lebih sopan tentu juga ada, sang ‘dewa’ membagi tugas tiap anggota tapi toh sebenarnya dia sudah mengerjakan semuanya seorang diri dan tugas yang dibagi untuk tiap anggota hanyalah formalitas belaka. SAKIT-___-“
· Kerjakan sendiri !
Apa jadinya jika tidak ada dewa dalam satu kelompok? Mungkin lebih baik, mungkin juga tidak. Ini juga tergantung masing-masing karakter yang ada dalam kelompok tersebut. Kalau mereka benar-benar tahu apa yang namanya kerja kelompok mereka akan membagi tugas secara adil, membantu anggota lain yang kesulitan, membahas hasil yang telah dikerjakan secara keseluruhan. Kalau tidak seperti itu? Yang saya tahu mereka akan membagi tugas, yang dianggap lebih bisa akan diberi porsi yang lebih banyak, setelah dikerjakan sendiri-sendiri semuanya dijadikan satu dan setelah itu? Ya begitu saja, jika ada yang tidak sesuai mereka akan menyalahkan anggota yang membuat kesalahan itu tanpa menyelesaikan dan membahas bersama-sama. Itu EGOIS!
· Beberapa yang bekerja.
Jenis ini sangat amat banyak saudara-saudaraaaaaaaaaaaaa! (terlalu sering mengalaminya). Tak perlu dewa di dalam kelompok ini, kelompok ini hanya perlu orang-orang yang peduli dengan kelompoknya. Bagus kalau semuanya peduli? Kalau tidak? Masih mending ada yang peduli daripada tidak ada sama sekali.
Kebanyakan kasus adalah seperti ini :
A: “Eh, ntar sore ikutan ngerjain tugas kelompok nggak?”
B: “Ngga deh kayaknya. Males gue palingan gak guna gue di sana.”
A: “Ya udah, gue juga gak deh kalo gitu.”
Coba kalo A berkata “Ikut dong, ngebantuin sebisa gue aja sih” pasti B bakalan jawab “Bareng ya, ntar ingetin gue. Gak enak masak gue gak bantuin apa-apa.”
Apa susahnya peduli dengan kelompok? Toh yang bakalan dapet nilai adalah semuanya! Mahasiswa bukan siswa yang guru masih bisa mengecek satu per satu siapa yang bekerja banyak siapa yang tidak. Dosen hanya melihat makalah jadi, berarti semua bekerja, CUKUP. Beberapa orang yang bekerja keras dengan tujuan kelompoknya mendapatkan pembelajaran bersama-sama tapi nilai mereka SAMA dengan anggota kelompok lain yang tidak peduli dengan kelompoknya. Coba saja ‘beberapa’ itu adalah semua, itu yang dinamakan kerja kelompok!
Oke, lalu apa yang membuat saya ingin menuliskan hal ini?
Untuk semua teman-teman kampus yang dibangga-banggakan oleh bangsa ini. Untuk kelompok DIKLAT TERPUSAT OSKM 2010, kelompok saya tepatnya.
Bermula saat dibacakan tugas untuk membuat Karya Angkatan, entah ide siapa saya juga kurang paham, yang jelas kami menyambung kardus-kardus dari taip kelompok untuk nanti jadi puzzle yang bertuliskan OSKM 2010 (ya, seperti itulah. Bingung juga nulisnya :D)
Kalau boleh jujur, saya tahu berkumpul untuk membuat tugas itu adalah sejak selasa 15 Juni (itupun iseng buka group), tapi saya masih berpikiran “ah, pasti banyak yang datang di kelompok saya” dan saya saat itu sedang ada acara sendiri. Besoknya, karena harus menyerahkan prosposal lalala jadilah saya ke kampus. Tapi karena yang nerima proposal baru datang siang kata yang jagaperpus dan saya setengahsembilan udah di kampus jadi saya balik dulu karena masih sangat mengantuk. Dengan mengumpulkan semangat akhirnya jam 11 saya ke kampus. Proposal ditolak karena tidak ada surat pengantar, akhirnya saya memutuskan langsungke tunnel bantu kelompok diklat saya. Setelah sms sana sini, saya ketemu dengan kelompok saya (sebenarnya sms sana sini = buang-buang pulsa karena tidak ada yang menjawab). 4 orang sudah ada di sana, “Alhamdulillah ada yang peduli” batinku dalam hati sambil tersenyum. Satu orang ngegambar, lainnya guntingin tulisan. Baru aja selesai gambar dan pasang tulisan kardus-kardus harus disatuin buat di cat. “masih bisa diselesein abis ini” sedikit menenangkan pikiran. Entah apa yang terjadi tiba-tiba satu per satu anggota menghilang. Satu anak SBM ada kuliah, satu anak sipil (yang ngegambar) tiba-tiba ijin dan menyerahkan barang-barang kelompok ke saya*masih belum panik. Dan kepanikanpun akhirnya datang saat Handphone tiba-tiba mati gitu aja sesaat setelah mengirim sms ke anakSBM nanyain nomer anakSAPPK dan jam 3 saya ada janji ke BIP. Panik dan berpikir, pinjem batrai temen! singkatnya temen saya berbaik hati, sms sanasini (lagi), telpon sanasini sampai ada yang ngerespon.
(14.30)
Saya: “EH, dimana? Cepet ke tunnel dong. Gue jam 3 harus cabut nih.”
Dia: “iya, gue tadi makan dulu.”
Blablablaaaa
Saya: “ya udah, saya tunggu sampe jam 3 ya.”
Klik. Balikin batrai. Menunggu, menunggu, menunggu lama sekaliiii, saya hampir frustasi. Naik, turun, naik, turun. Dan sampai jam 3, dari 2 orang kelompok saya gak ada yang ke tunnel, sedih sekali. Dengan berat hati saya beranjak ke BIP karena janji menemani adik saya cari sepatu. Gak penting sih, tapi sudah terlanjur janji.
Dan diklat berikutnya: “Temen-temen habis ini batuin nyelesein tugas kelompok kemaren ya.”
Intinya mah, sampai sore pun saya hanya ditemani 3 orang dari kelompok saya untuk menyelesaikan tugas itu, dan satu lagi yang tiba-tiba ‘dipaksa’ karena ketemu saat dia keluar tunnel.
Masih dengan sabar saya menelpon sang anakSAPPK yang katanya mau nyusul.
Saya: “Eh elu dimana? Katanya mau bantuin?”
dia: “Eh, sorry sorry gue lupa. Ini lagi makan?”
Saya: “Masih lama ngga?”
Dia: “lama sih kaya’nya”
Dan blabla bla akhirnya puncak kesabaran saya sudah di ambang batas. Dengan amat sangat kecewa ku tutup telpon tanpa ada kalimat penyudah percakapan.
Jadi intinya, hargailah orang lain, pedulilah dengan kepentingan kelompokmu, tepati janji!
Kemampuan bekerjasama itu penting, kawan. Kalian tak akan selamanya bisa berdiri di atas kepandaian kalian sendiri. Kalian butuh orang lain sebagai makhluk sosial.
Mulai hargai teman-temanmu jika ingin dihargai oleh mereka.
Mulai peduli dengan kelompokmu kalau ingin dipedulikan dan dibantu orang lain.
Dengarkan orang bicara, jangan sok ngga butuh, jangan egois kawan, kita tidak hidup sendiri.
Ya, sekian sajalah. Semoga sedikit bermanfaat untuk pembelajaran bersama .
P.s : THANKS BUAT YANG UDAH MAU BANTUIN NYELESEIN TUGAS KELOMPOK 44. Semoga kelompok ini akan lebih kompak
x)