Minggu, 27 Juni 2010

saya bilang juga apa

Tuh kaaan, apa saya bilang, blog saya tidak terurus dengan baik >.<

Sebenarnya saya mulai lelah dengan semua pilihan yang ingin saya jalani. Diklat terpusat yang baru mulai nyaman dengan semua anggota kelompok, diklat divisi dengan anggota baru yang saya harap bisa menyenangkan juga, belum lagi osjur yang sebentar lagi dimulai. Saya tau pasti itu akan melelahkan, saya tau itu nanti akan menjemukan, tapi saya pengecut kalau saya menyerah di tengah jalan, saya pecundang kalau saya berhenti dari pilihan saya. Saya akan berusaha dengan sekuat tenaga menjalani semua ini, dengan tersenyum pasti sedikit demi sedikit kegiatan yang saya lakukan bisa terasa ringan dan menyenangkan. Bukankah hidup itu untuk dinikmati ? =)

Oke, dulu saya memang kurang pas dengan kelompok diklat terpusat saya, tapi sekarang, setelah sang ketua terpilih tidak lagi mengurusi kelompok, dan digantikan dengan seseorang yang padahal baru saja datang di diklat ke-3 tapi kelompok kami semakin kompak, dan semakin peduli dengan tugas. Setidaknya jauh lebih tertata dari yang lama, dari yang asalnya hanya berkumpul 5 orang sekarang tiap kumpul maksimal 12 orang. Itu kemajuan yang pesat. Hahaa =D

Akhir-akhir ini emosi saya tidak sesuai pada tempatnya, saya membentak ketika diajak ngobrol kakak saya, saya seenaknya saja menyuruh orang, dan saya bahkan ngambek karena tidak ada yang membantu saya mengerjakan tugas yang sebenarnya jadi tugas saya (ah, bodohnya saya!). bahkan saya jarang tersenyum tulus seperti saya yang biasanya. Jangan Tanya kenapa karena saya sendiri tidak tahuuuu. Mungkin lelah atau mungkin juga sedang mengalami siklus kelabilan (ada gitu ya?).

Apa ya yang sedang saya pikirkan saat ini? Saya sedang berpikir tentang apa sebenarnya potensi saya. Tadi pagi, saat mengerjakan tugas oskm teman saya menelpon : “Fi, surat buat Telkom udah jadi ini.” Ya, saya tau itu tugas saya sebagai divisi marketing. Saya harus menyerahkan proposal ke sana-sini. Saya kira itu mudah dan menyenangkan karena akan berinteraksi dengan banyak orang baru. Tapi entahlah, saya merasa itu bukan bidang yang saya ingin geluti. Jadi saya tadi hanya menjawab dengan malas “Aduh, gimana dong. Aku lagi ngerjain tugas oskm nih.” Saya tau, sepertinya teman saya itu kesal dengan tingkah saya. Tapi jujur, saya tidak suka dengan kegiatan itu. Itu bukan keahlian saya teman, saya benar-benar tidak menikmatinya meskipun saya sudah meyakinkan diri bahwa itu adalah kewajiban dan tanggung jawab saya. Selama ini saya selalu masuk divisi acara dari tiap kepanitiaan yang saya ikuti, dan saya benar-benar menikmatinya, saya rela datang ke kampus walau Cuma sebentar untuk mengkonsep atau mengurusi acara.

Saya tahu, ini komitmen, ini semua adalah pembelajaran, dan tentunya ini semua adalah tanggung jawab. Sebenarnya apa yang membuat saya tidak nyaman? Mungkin saja sih karena saya tidak biasa dengan pekerjaan itu, tapi bukankah ketika kita menemukan apa yang kita sukai kita akan mengerjakan segala sesuatunya tanpa merasa berat sama sekali. Saya sudah memilih, saya takut kalau nantinya saya akan kehilangan komitmen saya seperti beberapa bulan yang lalu karena sudah merasa tidak cocok dengan yang saya kerjakan. Semoga saja itu hanya ketakutan belaka, yang akan hilang seiring berjalannya waktu.

Tetap semangat dan tetap menjaga semangat teman-teman saya. Hanya itu yang ingin saya lakukan saat ini. =)


seharusnya ini diupload beberapa hari yang lalu :)

Sabtu, 19 Juni 2010

oleh-oleh dari kalimantan (part 2)

Sebenernya udah pengen nulis ini sejak sekian lama. Tapi baru sempet karena harus ini itu dan berbagai kesibukan lainnya yang tak kalah menyenangkan dari menulis.

Saat itu saya bisa mati bosan karena di rumah tante saya dan mengurus anak-anaknya yang super dan tak ada teman ngobrol. Well, saya memang suka anak-anak tetapi saya juga perlu istirahat! Saya hanya membolak-balik majalah yang sudah lebih dari 3 kali saya baca. Sesekali melirik handphone untuk melihat jam dan berharap tante saya segera pulang agar saya bisa tiduran walaupun sebentar. Singkat cerita akhirnya tante saya datang, dia merebahkan badannya di kasur, tampaknya lelah sekali.

Aku mendengarkannya bercerita sebentar, menanggapi sesekali.

Tante: “eh fi, kamu tau mbak ima itu dandannya sekarang modis loh!”

Sepertinya saya sudah mulai tahu arah pembicaraan ini. Mbak ima, itu sepupu saya, anak dari tante saya yang lain. Dulu dia memang gak pernah neko-neko kalo memakai baju, tapi saya akui memang dia gadis yang anggun.

Tante (lagi) : “kamu kenapa masih suka pakai kaos dan jeans doang sih? Dandan lebih cewek dong, fi. Biar keliatan anggun. Gak perlu pake rok, pake kemeja aja. Terus sepatunya jangan kaya cowok gitu”

Glek, saya hanya menelan ludah. Serasa tertusuk. Sepatu? Oke ini murni kesalahan saya, kasian juga papah saya yang selalu memberikan uang untuk membeli sandal, sepatu, atau apapun tapi saya hanya menumpuk barang-barang itu di lemari; dan dengan bodohnya kebiasan terburu-buru memakai sepatu yang ada di depan saya tanpa peduli pantas atau tidak. Yak, saya memang bodoh saat itu. Saya berangkat dengan memakai kemeja, jeans, dan sepatu model crocs (yg padahal katanya sedang tren :p). sempat sih ebrfikir sebentar, kok kaya gak cocok ya? Ah, sudahlah daripada harus masuk lagi untuk ganti sepatu saya pakailah sepatu itu, dan ternyata tante saya tidak suka dengan style itu. Haha, ya sudahlah. Kembali ke topik tentang wanita anggun yang tadi saya bilang.

Akhirnya saya berkata : “iya, lek. Maaf, kemejanya biasanya dipakai kuliah (boong banget). Trus sepatu itu memang waktu berangkat dari bandung cepet-cepetan, jadi pake yang ada di depan mata.”

Tante : “Pokoknya, aku mau ponakanku keliatan anggun. Kuliah di tempat yang banyak cowoknya gak berarti harus jadi cowok terlalu tomboy. Tomboy boleh tapi tetep harus modis.”

Akhirnya setelah itu tante saya keluar dari kamar dan kembali lagi dengan memberikan saya setumpuk uang (gak perlu disebutkan berapa), katanya buat belanja baju dan sepatu. Huaaaah, skak mat! Saya merasa sedikit dilecehkan (gak juga sih, hanya merasa menyesal pada orang tua saya yang selalu memberikan saya uang untuk belanja. Tapi saya nya malah beli kaos, sepatu kets, barang-barang gak guna, dll. Maaf papah TT ).

Dan sekarang saya berpikir, oke, anggun. Di mata saya anggun itu sopan, memakai pakaian rapi, rok mungkin, ramah. Dan saya bukan orang seperti itu. Selama kuliah saya hanya pernah memakai rok sekali, itupun karena tantangan dari teman saya. Rapi? Ngga tau deh saya apa itu rapi, yang penting saya merasa nyaman. Iya sih, saya juga ngerasa selama ini dandanan saya kaya anak sekolahan, saya gak pernah peduli dengan penampilan. asal masih make baju aja sih. =D

Okelah, saya salah. Saya terlalu gengsi untuk memakai pakaian yang berbau cewek-cewekan. Saya tau pakai rok itu tidak salah, tapi sekali lagi saya masih sangat gengsi. Tapi entah kenapa obrolan singkat itu sangat membuatku berpikir ulang tentang seorang wanita. Wanita yang tampak wanita.

Oke, pulang dari Banjarmasin saya mulai membenahi diri. Saya membongkar pakaian di lemari. Menyingkirkan kaos (gak dibuang sih, maksudnya dijadikan bukan prioritas). Dan yah, saya mulai belajar memakai rok tanpa rasa gengsi. Persetan lah dengan gengsi =D.

Hasilnya? Hoo yeah, untuk pertama kalinya saat keluar bersama adik saya, adik saya bilang kalau SAYA BERPAKAIAN LAYAKNYA ANAK KULIAH!! Yeah, emang selama ini penampilan saya begitu buruknya yaa >.<


yah, intinya sih saya berharap saya bisa jadi lebih cewek sajaaa :D


btw : part 1 ada di flashdisk, tapi saya lupa naruh dimana XD

Jumat, 18 Juni 2010

apa itu ya yang namanya kelompok?

Saya sudah cukup lelah dengan semua sikap mereka, saya terlalu bosan dengan team-work mereka. Tak Cuma sekali ini, ini berulang kali terjadi, entah kenapa puncak kelabilan saya untuk satu hal ini adalah malam ini. Saya memutuskan untuk tidak menonton bola malam ini, dan biarlah saya bercoletah tentang ‘kerja sama’ kelompok di kampus TERCINTA.

Sudah cukup sering kalimat “Teamwork anak ITB itu paling jelek” atau “Anak ITB itu gak bisa kerja sama pas di dunia kerja” atau “mereka terlalu egois”, yah kalimat seperti itu sudah sangat sering mampir di telinga saya. Saya ingin menepis pernyataan mereka, tapi saya sendiri kurang tahu apa saya sudah lebih baik dibandingkan orang-orang yang saya anggap kurang peduli dengan apa itu yang dinamakan “kerja kelompok”. Tahun pertama ini saya menemukan dan menganalisa berbagai cara “kerja kelompok” di kampus Ganesha ini. Saya cukup melihat sekitar saya saja dan itu terlihat dengan mudah. Ini hasil pengamatan saya (CMIIW, ini bersifat subjektif)

· ‘Dewa’ yang bekerja

Macam-macam caranya. Ada yang memang berkumpul, tapi hanya ‘dewa’ itu yang memikirkan dan mengerjakan segala macam pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan bersama. Banyak alasannya, mungkin sang ‘dewa’ merasa bahwa kalau bukan dia yang menghandle maka tak akan ada yang beres atau sang ‘pengikut’ merasa kalau dikerjakan bersama hasilnya tidak akan sesempurna bila hanya sang dewa yang bekerja. Ada juga yang terang-terangan menawarkan dia saja yang bekerja (jujur, ini banyak sekali teman. Entah mereka itu tahu atau tidak bagaimana perasaan anggota kelompoknya yang merasa disepelekan atau dianggap tak mampu). Yang lebih sopan tentu juga ada, sang ‘dewa’ membagi tugas tiap anggota tapi toh sebenarnya dia sudah mengerjakan semuanya seorang diri dan tugas yang dibagi untuk tiap anggota hanyalah formalitas belaka. SAKIT-___-“

· Kerjakan sendiri !

Apa jadinya jika tidak ada dewa dalam satu kelompok? Mungkin lebih baik, mungkin juga tidak. Ini juga tergantung masing-masing karakter yang ada dalam kelompok tersebut. Kalau mereka benar-benar tahu apa yang namanya kerja kelompok mereka akan membagi tugas secara adil, membantu anggota lain yang kesulitan, membahas hasil yang telah dikerjakan secara keseluruhan. Kalau tidak seperti itu? Yang saya tahu mereka akan membagi tugas, yang dianggap lebih bisa akan diberi porsi yang lebih banyak, setelah dikerjakan sendiri-sendiri semuanya dijadikan satu dan setelah itu? Ya begitu saja, jika ada yang tidak sesuai mereka akan menyalahkan anggota yang membuat kesalahan itu tanpa menyelesaikan dan membahas bersama-sama. Itu EGOIS!

· Beberapa yang bekerja.

Jenis ini sangat amat banyak saudara-saudaraaaaaaaaaaaaa! (terlalu sering mengalaminya). Tak perlu dewa di dalam kelompok ini, kelompok ini hanya perlu orang-orang yang peduli dengan kelompoknya. Bagus kalau semuanya peduli? Kalau tidak? Masih mending ada yang peduli daripada tidak ada sama sekali.

Kebanyakan kasus adalah seperti ini :

A: “Eh, ntar sore ikutan ngerjain tugas kelompok nggak?”

B: “Ngga deh kayaknya. Males gue palingan gak guna gue di sana.”

A: “Ya udah, gue juga gak deh kalo gitu.”

Coba kalo A berkata “Ikut dong, ngebantuin sebisa gue aja sih” pasti B bakalan jawab “Bareng ya, ntar ingetin gue. Gak enak masak gue gak bantuin apa-apa.”

Apa susahnya peduli dengan kelompok? Toh yang bakalan dapet nilai adalah semuanya! Mahasiswa bukan siswa yang guru masih bisa mengecek satu per satu siapa yang bekerja banyak siapa yang tidak. Dosen hanya melihat makalah jadi, berarti semua bekerja, CUKUP. Beberapa orang yang bekerja keras dengan tujuan kelompoknya mendapatkan pembelajaran bersama-sama tapi nilai mereka SAMA dengan anggota kelompok lain yang tidak peduli dengan kelompoknya. Coba saja ‘beberapa’ itu adalah semua, itu yang dinamakan kerja kelompok!

Oke, lalu apa yang membuat saya ingin menuliskan hal ini?

Untuk semua teman-teman kampus yang dibangga-banggakan oleh bangsa ini. Untuk kelompok DIKLAT TERPUSAT OSKM 2010, kelompok saya tepatnya.

Bermula saat dibacakan tugas untuk membuat Karya Angkatan, entah ide siapa saya juga kurang paham, yang jelas kami menyambung kardus-kardus dari taip kelompok untuk nanti jadi puzzle yang bertuliskan OSKM 2010 (ya, seperti itulah. Bingung juga nulisnya :D)

Kalau boleh jujur, saya tahu berkumpul untuk membuat tugas itu adalah sejak selasa 15 Juni (itupun iseng buka group), tapi saya masih berpikiran “ah, pasti banyak yang datang di kelompok saya” dan saya saat itu sedang ada acara sendiri. Besoknya, karena harus menyerahkan prosposal lalala jadilah saya ke kampus. Tapi karena yang nerima proposal baru datang siang kata yang jagaperpus dan saya setengahsembilan udah di kampus jadi saya balik dulu karena masih sangat mengantuk. Dengan mengumpulkan semangat akhirnya jam 11 saya ke kampus. Proposal ditolak karena tidak ada surat pengantar, akhirnya saya memutuskan langsungke tunnel bantu kelompok diklat saya. Setelah sms sana sini, saya ketemu dengan kelompok saya (sebenarnya sms sana sini = buang-buang pulsa karena tidak ada yang menjawab). 4 orang sudah ada di sana, “Alhamdulillah ada yang peduli” batinku dalam hati sambil tersenyum. Satu orang ngegambar, lainnya guntingin tulisan. Baru aja selesai gambar dan pasang tulisan kardus-kardus harus disatuin buat di cat. “masih bisa diselesein abis ini” sedikit menenangkan pikiran. Entah apa yang terjadi tiba-tiba satu per satu anggota menghilang. Satu anak SBM ada kuliah, satu anak sipil (yang ngegambar) tiba-tiba ijin dan menyerahkan barang-barang kelompok ke saya*masih belum panik. Dan kepanikanpun akhirnya datang saat Handphone tiba-tiba mati gitu aja sesaat setelah mengirim sms ke anakSBM nanyain nomer anakSAPPK dan jam 3 saya ada janji ke BIP. Panik dan berpikir, pinjem batrai temen! singkatnya temen saya berbaik hati, sms sanasini (lagi), telpon sanasini sampai ada yang ngerespon.

(14.30)

Saya: “EH, dimana? Cepet ke tunnel dong. Gue jam 3 harus cabut nih.”

Dia: “iya, gue tadi makan dulu.”

Blablablaaaa

Saya: “ya udah, saya tunggu sampe jam 3 ya.”

Klik. Balikin batrai. Menunggu, menunggu, menunggu lama sekaliiii, saya hampir frustasi. Naik, turun, naik, turun. Dan sampai jam 3, dari 2 orang kelompok saya gak ada yang ke tunnel, sedih sekali. Dengan berat hati saya beranjak ke BIP karena janji menemani adik saya cari sepatu. Gak penting sih, tapi sudah terlanjur janji.

Dan diklat berikutnya: “Temen-temen habis ini batuin nyelesein tugas kelompok kemaren ya.”

Intinya mah, sampai sore pun saya hanya ditemani 3 orang dari kelompok saya untuk menyelesaikan tugas itu, dan satu lagi yang tiba-tiba ‘dipaksa’ karena ketemu saat dia keluar tunnel.

Masih dengan sabar saya menelpon sang anakSAPPK yang katanya mau nyusul.

Saya: “Eh elu dimana? Katanya mau bantuin?”
dia: “Eh, sorry sorry gue lupa. Ini lagi makan?”

Saya: “Masih lama ngga?”

Dia: “lama sih kaya’nya”

Dan blabla bla akhirnya puncak kesabaran saya sudah di ambang batas. Dengan amat sangat kecewa ku tutup telpon tanpa ada kalimat penyudah percakapan.

Jadi intinya, hargailah orang lain, pedulilah dengan kepentingan kelompokmu, tepati janji!

Kemampuan bekerjasama itu penting, kawan. Kalian tak akan selamanya bisa berdiri di atas kepandaian kalian sendiri. Kalian butuh orang lain sebagai makhluk sosial.

Mulai hargai teman-temanmu jika ingin dihargai oleh mereka.

Mulai peduli dengan kelompokmu kalau ingin dipedulikan dan dibantu orang lain.

Dengarkan orang bicara, jangan sok ngga butuh, jangan egois kawan, kita tidak hidup sendiri.

Ya, sekian sajalah. Semoga sedikit bermanfaat untuk pembelajaran bersama .

P.s : THANKS BUAT YANG UDAH MAU BANTUIN NYELESEIN TUGAS KELOMPOK 44. Semoga kelompok ini akan lebih kompak


x)

Kamis, 17 Juni 2010

Postingan Pertamaax

YAAAAH… AKHIRNYAAAA…

Untuk mengisi liburan ini dan juga untuk memenuhi permintaan banyak teman-teman saya (berasa banyak yang minta :p) akhirnya dengan ini saya meresmikan BLOG pertama saya. Heheee…
Bismillahirrahmanirrahim…
Kenapa nge-blog? Pengen sih (meskipun telat).
Saya sudah lumayan bosan dengan situs jejaring :p
Saya tidak pandai menulis, tapi saya menikmati dunia tulis menulis :D. saya tidak paham apa itu Ejaan Yang Disempurnakan, saya tidak paham kata baku, saya tidak paham kalimat efektif, saya juga tidak terlalu paham penggunaan tanda baca. Tapi apalah arti semua itu, yang penting saya SUKA :*


And –I Do What I Love –
Saya suka melakukan apa yang saya suka, tanpa diatur-atur, tanpa dipaksa, dan tanpa diperintah. Saya berusaha meluangkan waktu untuk hal-hal yang saya sukai tanpa melupakan bahwa saya harus menyukai hal-hal yang saya lakukan (yang berarti bukan hal yang saya sukai *jadi ribet bacanya :D)
Mungkin cupu atau apapun lah, saya hanya mencoba menuangkan pemikiran saya dalam blog ini. Pemikiran atau entah coret-coretan seorang bocah yang hanya ingin menikmati hari-harinya di kampus Ganesha tercinta ini. Tulisan saya mungkin tidak terlalu bermakna, tapi entah kenapa saya suka sekali menulis ( tapi bukan tulisan yang berat ). Cuma untuk mengisi kegalauan dan menikmati menjelajahi dunia imajinasi. Agar otak saya bisa terbebaskan dari hal-hal yang ‘itu-itu’ saja, agar saya bisa mengabadikan pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan. (tenang saja, pelajaran yang saya maksud di sini bukanlah semacam Kalkulus, Fisika, Kimia, PTI, ataupun Dasar Rangkaian Elektrik =)) di sini adalah pelajaran hidup yang saya peroleh *halaah*)
Ya. Sekian kata-kata pembuka saya yang singkat itu :D


Selamat menikmati….
Terimakasih..